Monday, March 19, 2012

Pak Tani itu Tetap Mendatangi Shalat Jama'ah di Kala Sakit

Irfan Nugroho
Waktu itu menjelang shalat Subuh, dan seorang mu’adzin dengan jaket tebal, sarung di atas mata kaki, dan sehelai handuk kecil putih di lehernya mengumandangkan adzan memecah heningnya suasana pagi hari itu.

Wajah yang biasa teduh, kala itu terlihat pucat, suara beliau pun terdengar serak saat itu, sangat redam, dan seolah-olah sedang banyak cairan dahak yang menyumbat tenggorokan beliau.

Sesekali beliau membungkuk, memalingkan wajah dari microphone karena harus menyentak batuknya ketika harus berterial untuk adzan.

Meski begitu, tak ada pilihan lain baginya karena jika bukan beliau yang mengambil tugas adzan Subuh, pastilah shalat Subuh di kampung Karangasem, Kecamatan Bulu, Sukoharjo ini akan terlambat.

Memang ada beberapa mu’adzin di Masjid tersebut, namun telah sepuluh tahun lebih beliau selalu menjadi orang yang pertama kali membuka pintu Masjid tersebut untuk shalat subuh.

Beliau bernama Suratman. Seorang petani sederhana dari sebuah kampung di pedalaman Sukoharjo, sebuah teritorial di Jawa Tengah yang terkenal sebagai basis Mujahidin (namun lebih sering disebut basis teroris).

Perawakannya pendek, rambutnya cepak, dan kulitnya hitam seolah hangus karena terlalu sering terpapar sinar matahari di area persawahan miliknya.

Saat itu beliau sedang demam tinggi disertai gejala flu seperti batuk dan pilek, satu set penyakit yang umum diderita oleh kelompok manusia yang digolongkan Pert*mina sebagai ‘golongan tidak mampu.’

Sudah memasuki hari ketiga beliau menderita penyakit orang miskin tersebut, sehingga aktivitasnya mencari rumput, mencangkul, dan menyemai bibit harus tertunda selama tiga hari tersebut.

Namun begitu, beliau tetap istiqamah menjalankan shalat wajib lima waktu secara berjama’ah di Masjid, lebih-lebih shalat yang dirasa sangat berat oleh orang-orang munafik, yakni shalat Subuh.

Pernah suatu saat gejala sakit typhus-nya kambuh parah dan istrinya rewel meminta beliau untuk shalat di rumah saja, namun beliau tetap ngotot untuk berjama’ah ke Masjid.

Subhanallah..! Dari beliaulah kemudian kita bisa memahami makna dari pesan Rasulullah, “Shalat berjama’ah itu lebih utama daripada shalat sendirian dengan dua puluh tujuh derajat,” (Diriwayatkan secara muttafaq ‘alaih).

Dari lima shalat wajib yang secara konsisten beliau lakukan secara berjama’ah, shalat subuh adalah yang paling spesial.

“Dua raka’at sebelum shalat Subuh saja pahalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya apalagi shalat subuhnya, berjama’ah shalat subuh pun pasti jauh lebih bagus pahalanya, kan?” katanya sambil tersenyum.

“Dua raka’at shalat sunnah Fajar (sebelum shalat wajib Subuh), lebih baik daripada dunia dan seisinya,” (HR Muslim dari Ibunda Aisyah).

Benar saja, nasihat Rasulullah itu benar-benar merasuk dalam hatinya.

Meskipun beliau tidak hafal matan, sanad, atau periwayat hadist tersebut, namun beliau mampu menjalankannya secara istiqamah selama lebih dari sepuluh tahun.

Dari beliaulah kita semua, termasuk engkau, nak… belajar mengenai keutamaan shalat berjama’ah, terutama shalat subuh.

Rasulullah pernah bersabda, “Andaikata mereka tahu betapa besar pahala dari shalat Isya’ dan shalat Subuh secara berjama’ah, niscaya mereka akan mendatangi kedua shalat itu meski harus merangkak,” (Diriwayatkan secara muttafaq ‘alaih). Wallahu’alam bish shawab. (25 Rabi’ul Akhir 1433 H).
READ MORE

Friday, March 16, 2012

Belajar dari Pak Rebo & Ibnu Ummi Maktum tentang Istiqamah Shalat Berjama'ah

Irfan Nugroho
Suatu saat di desa Karang Tengah, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, seorang pria paruh baya dengan perawakan tegap dan rambut cepak menghidupkan microphone Masjid dan mengumandangkan adzan.

Adzan merdu itu pun selesai dan pria tersebut melaksanakan shalat sunnah dua rakaat diikuti dengan mengangkat tangan sambil berdoa karena doa yang diucapkan antara adzan dan iqamah akan terkabul.

Lima belas menit berlalu, tak ada lagi umat Islam yang mendatangi Masjid tersebut, memenuhi panggilan shalat, panggilan menuju kemenangan yang dilantunkan oleh pria tersebut, hingga akhirnya, beliau melakukan iqamat dan menjadi imam.

Subhanallah…! Ternyata sang Mu’adzin, imam, penjaga Masjid, dan teramat sering beliau pula yang menjadi satu-satunya jama’ah di Masjid itu adalah seorang yang menderita kebutaan sejak kecil. Beliau adalah Pak Rebo.

Mungkin beliaulah representasi dari sosok Ibnu Ummi Maktum di zaman modern.

Baiklah, nak… Dulu pernah ada seorang Sahabat bernama Ibnu Ummi Maktum datang menemui Rasulullah, dan meminta izin kepada beliau untuk tidak melaksanakan shalat secara berjama’ah.

Namun Rasulullah tidak memberikan izin dan berkata kepadanya, “Apakah engkau mendengar ‘Hayya ‘alash shalat… Hayya ‘alal falakh…’? Kalau engkau mendengarnya, maka datanglah shalat berjama’ah,” (HR Abu Daud, Hasan).
Padahal, nak… Tahukah engkau siapa itu Ibnu Ummi Maktum? Ya, sahabat yang juga memiliki nama Amr Bin Qais ini adalah seseorang yang menderita kebutaan, dan kota Madinah saat itu penuh dengan ular, kalajengking, dan binatang buas lainnya.

Nak… Sahabat Abu Hurairah pernah bercerita (dan cerita ini dicatat oleh Imam Muslim) bahwa ada seorang lelaki buta mendatangi Rasulullah dan meminta izin agar diperbolehkan tidak mendatangi shalat berjama’ah.

Ya Rasulullah, saya ini tidak mempunyai seorang pembimbing pun yang dapat membantu saya untuk pergi ke Masjid,” kata sahabat yang buta tersebut.

Apakah engkau mendengar suara adzan?” Tanya Rasulullah kepadanya ketika sahabat tersebut hendak pergi.

Iya, Rasulullah,” jawabnya.

Maka Rasulullah bersabda, “Kalau begitu penuhilah panggilan adzan tersebut,” (HR Muslim).

Konon lelaki dalam cerita sahabat Abu Hurairah tersebut juga adalah Amr Bin Qais Ibnu Ummi Maktum yang kedua kalinya meminta izin dari Rasulullah untuk tidak menghadiri shalat berjama’ah karena kebutaannya.

Namun dengan nasihat Rasulullah agar istiqamah menjaga shalat berjama’ah tersebut, maka Amr Bin Qais akhirnya menjadi mu’adzin kedua setelah Bilal Bin Rabbah.

Putra sahabat Umar bin Khattab (Ibnu Umar) menyaksikan sendiri bahwa, “Rasulullah mempunyai dua orang mu’adzin, Bilal bin Rabbah dan Amr bin Qais Ibnu Ummi Maktum yang buta,” (HR Imam Muslim).

Subhanallah…! Beginilah sosok Ibnu Ummi Maktum, yang meskipun menderita kebutaan, beliau tetap menjaga shalat berjama’ah dan akhirnya dipercaya menjadi mu’adzin di Madinah kala itu.

Sama halnya dengan Ibnu Ummi Maktum, Pak Rebo adalah seorang yang buta, namun beliau secara istiqamah menjaga shalat berjama’ah, juga menjadi mu’adzin, dan kadang juga menjadi imam dan jama’ah Masjid tersebut.

Nak, inilah pentingnya shalat berjama’ah, hingga seorang seperti Pak Rebo dan Ibnu Ummi Maktum yang buta pun tidak mendapat keringanan untuk tidak menghadiri shalat wajib secara berjama’ah di Masjid.

Nak, ambilah pelajaran dari sosok Pak Rebo, yang meski menderita kebutaan namun beliau tetap istiqamah menjadi mu’adzin, istiqamah menjalankan shalat, dan yang paling istimewa, beliau senantiasa menjaga shalat wajib secara berjama’ah.

Nak,  engkau seharusnya malu pada sosok Ibnu Ummi Maktum yang menderita kebutaan tapi istiqamah menjalankan shalat berjama’ah meskipun jalanan di Madinah saat itu penuh dengan semak-semak, ular, kalajengking, dan binatang buas.

Nak, akan kau temui dari umat Islam ini manusia yang masih muda, sehat, dan memiliki dua mata yang sempurna, tanpa ada cacat sama sekali, namun berat terasa kaki mereka untuk melangkah ke Masjid memenuhi panggilan shalat?

Hindarilah menjadi pemuda yang malas shalat berjama’ah karena engkau muda, engkau sehat, dan dua mata yang sehat pun masih menempel di kepalamu.

Nak, belajarlah dari sosok Pak Rebo dan Ibnu Ummi Maktum tentang istiqamah menjaga shalat berjama’ah. Wallahu’alam bish shawwab. (21 Rabi’ul Akhir 1433 H).
READ MORE

Sunday, March 11, 2012

Sixth Day as Liaison Officer of the Sixth ASEAN Para Games


Irfan Nugroho
This was the first battle day of the Sixth ASEAN Para Games. It was held on December 16th 2011, and that was awesome.

Totally tiring and incredibly hectic since that was the first time for me to get involved at a sport event; moreover, that was para sports event.

As I have told you in the previous journal, a night before this first day of the game was the opening ceremony of the Sixth ASEAN Para Games.

It ended at 10 o’clock; but together with the entourage of Indonesian athletic athletes, I could just arrive at the athlete village at 11 o’clock.

I had only limited time to sleep, because the game was scheduled to kick off at 7:30 in the morning.

This also means that I should be ready steady go one or two hours before that time, to prepare my athletes, to get them to the bus stop, and to lead them to the call room at the venue, at the Manahan Stadium.

Let me give you a brief description of what a liaison officer should do at such an event.

Technical Meeting
Well, a night before the D-day, make sure that you get the schedule for the D-day.

There was something unique at the Sixth ASEAN Para Games, in which the schedule event was set one night before the D-day.

So, if there a battle day was set to be on December 16th, 2011, the schedule would be arranged on December 15th, 2011 at night.

However, such a mechanism was not liable for the welcoming ceremony, the opening ceremony, and the closing ceremony.

So, one tip I will tell you if you wanting to become a liaison officer.

Keep asking the delegates you are in charge with, and do not hesitate to ask for permission from them to let you to attend the technical meeting a night before the D-day of the battle.

Meal Order Service

At the same night after you attend the technical meeting, and finally get the schedule, do not forget to submit the meal service tickets to the central committee.

The number of meal boxes you book that night must be based on the number of athletes, officials, and coaches participating in the following day.

I do highly recommend that you add extra meal boxes because one or two athletes who were not competing on that day would also come to the venue, just to support their friend.

Informing the Athletes
At the same night, please do not hesitate to inform your athletes who will take part at the battle day.

In some cases, there have already been information from the officials or the coaches, but you must do this in order to remind them and to get closer with the athletes you are in charge with.

I was lucky enough to accompany the Indonesian athletic athletes because they were very enthusiastic, very polite, and very nice people.

Likewise, the officials, the coaches, and the athletes used to held a briefing one night before the game to gather strategy, schedule, and to boost their motivation.

Taking them to the Venue

This was a complicated job for me personally, because some athletes who played at 10 AM did not want to depart to the venue at 6 AM, together with the athletes who played at 7:30 AM.

To cope with such a situation, you must tell them how to get to the venue by the shuttle busses.

At the sixth ASEAN Para Games, there were two routes of shuttle busses; route A (colour-coded red) and route B (colour-coded green).

Route A served the route from the athlete village to the venues around the Manahan sports center; while route B served from the athlete village to the all venues except the venues at the Manahan sports center.

Registering the Athletes
Soon when you have arrived at the venue, go to the call room one and tell the officials there that your athletes have already been at the venue.

Write down their names on the form given by the officials in the call room one, and let your athletes warm up for half an hour.

After that, you are free, at least until your athletes joined at the battle because you will not be in charge with the matters in the call room two.

There would be some officials in the call room one who announced whom would participate in the nearest numbers; usually there were three calling; first all, second call, and final call.

Medal Awarding Ceremony
At this stage, you are in charge of preparing your athletes for medal awarding ceremony.

It’s simply at a glance, but if your athletes leave the venue away soon after they win a number, that will be a hectic situation as you must search for them on every corner of the stadium.

Consequently, you must keep watching them out while they are playing a sport number. If they win a number, deserving for gold medal, you must accompany him to a doping test room.

After that, you must take them for the medal awarding ceremony.

Indonesian Athletic Athletes at the First Day of the Sixth ASEAN Para Games
Well, the first battle day at the sixth ASEAN Para Games was an unforgettable and full of learning.

That was the time when I saw by myself how my friends with disabilities were trying to tell the world that they can do the same thing as people with no disabilities.

As part of the Indonesian athletic team, I was proud to be able to contribute, to support, and to be part of my friends’ success.

On the first battle day of the sixth ASEAN Para Games, two gold medals were given to Famini from class F55 discuss female and Alan Sastra Ginting from class F58 Shot Put male.

One silver medal was given to my friend Dwi Oktaviani from class F55 discuss female; and four bronze medals were given to Yulianto Doni (T53 100m male), Nanang Subandi (F20 Javelin male), I Gede Nyoman Oka (F13 Long Jump male), and Prayitno (F58 shot put male).

Well, congratulations friends! 








READ MORE

Saturday, March 10, 2012

Hindarilah Berselisih dengan Saudaramu Sesama Muslim, Nak…

Irfan Nugroho
Nak, akan ada suatu masa dimana engkau akan menemui seseorang yang benar-benar hobi menyelisihi pendapatmu, atau pendapat orang lain.

Akan tiba masanya engkau akan sering mendapat penolakan, sanggahan, dan bantahan dari teman dekatmu, atau pun dari istrimu/suamimu kelak ketika engkau dewasa nanti.

Bukan karena kesalahan yang kau perbuat, bahkan engkau telah mengajak pada kebenaran atau mengatakan suatu hal yang benar.

Namun memang di dunia ini ada manusia yang gemar dan bahkan hobi untuk menyelisihi pendapat orang lain atas dasar bersikap kritis atau hanya ingin sekedar tampil beda.

Karena memang inilah salah satu penyebab banyaknya pertikaian, perdebatan, dan tidak akurnya umat Islam akhir-akhir ini.

Mereka fanatik pada kelompok, partai, ustadz, kiai, atau sheikh tertentu hingga membuat mereka berpandangan picik lagi sempit lalu menjerumuskan mereka pada klaim bahwa hanya merekalah yang paling benar.

Bisa jadi engkau memutuskan untuk pergi ke kanan, dan temanmu tak setuju dan mengajak ke kiri.

Bukan karena ada sesuatu apa pun, tapi memang akan engkau temui seseorang yang memang hobi berselisih.

Maka bersabarlah ketika engkau mendapati temanmu menyanggah, “Hal tersebut boleh,” ketika engkau berkata, “Hal tersebut boleh karena ada ulama yang membolehkan.”

Atau, akan engkau temui suatu kelompok kaum Muslim yang akan senantiasa berbeda dari kelompok Islami lainnya, hanya karena memang mereka ingin selalu berbeda dengannya.

Bahwa memang ada suatu kelompok yang menganjurkan, (namun diungkapkan dengan bahasa ‘tidak mengharamkan’), para wanita Muslimah untuk memakai celana panjang.

Terlepas dari benar atau salah, bahwa memang ada kelompok lain yang dengan tegas mengharamkan celana panjang bagi wanita, kecuali celana panjang tersebut menjadi ‘dalaman’ rok. Wallahu’alam.

Maka dari itu, nak, bersabarlah dan berhati-hatilah dalam menyikapi hal sedemikian rupa.

Hindarilah fanatik berlebihan terhadap suatu kelompok, kiai, ulama, sheikh, ustadz, atau mahzab tertentu, karena hal tersebut akan menggiringmu untuk senantiasa berselisih dengan kelompok lain.

Padahal Rasulullah telah mewanti-wantimu untuk tidak menyelisihi saudaramu sesama Muslim jika senantiasa dalam koridor ketaqwaan kepada Allah.

“Jangan berselisih dengan saudaramu…” (HR Bukhari, Shahih, dalam Adabul Mufrad).

Ingatlah, nak… Senantiasa berselisih dengan saudaramu sesama Muslim tidak akan membawa manfaat apapun, justru hal tersebut hanya akan membuat barisan kaum Muslimin ini terlihat rapuh di mata musuh-musuh Allah.

Namun juga perlu kau ingat, nak… Berselisih dengan saudaramu sesama Muslim baru diperkenankan ketika saudaramu tersebut hendak melenceng dari jalan kebenaran.

Berselisihlah dengan bahasa yang halus dan penuh hikmah terhadap saudaramu yang secara tidak sadar atau pun sadar hendak mengajakmu untuk kemaksiatan.

Tak ada ketaatan pada makhluk dalam mendurhakai Sang Khaliq,” (HR Ahmad).

Hindarilah menyelisihi pendapat saudaramu sesama Muslim karena tanpa perselisihan pun, “Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,” (Al-Ashr: 02).

“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, dan saling menasihati agar senantiasa menetapi kebaikan/kebenaran dan kesabaran,” (Al-Ashr: 03).


Ya… Ada perintah untuk saling menasihati dalam kebaikan dan kesabaran dalam Surat Al-Ashr ayat tiga tersebut, yang kemudian mengindikasikan bahwa hendaknya tidak ada penolakan, bantahan, dan sanggahan terhadap ajakan kebaikan dan nasihat sabar.

Ada satu cerita menarik tentang Surat Al-Ashr sebagaimana ditulis oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsir beliau.

Sahabat Amr bin Ash datang menemui Musailamah al-Kadzab (semoga Allah melaknatnya karena mengklaim sebagai seorang nabi penerus Rasulullah Muhammad salallahu ‘alaihi wasalam).

Ketika menemui Sahabat Amr bin Ash, Musailamah bertanya, “Apa yang telah diwahyukan kepada temanmu (Rasulullah) saat ini?”

Sahabat Amr bin Ash menjawab, “Surat yang pendek dan sangat penuh makna telah diwahyukan kepada beliau.” Lalu Amr bin Ash membacakan Surat Al-Ashr tersebut.

Maka dasar memang Musailamah adalah “Imam” atau “Pemimpin” manusia yang hobi berselisih pendapat, maka kemudian ia mengatakan, “Sungguh, sesuatu yang mirip juga diwahyukan kepadaku.”

Lalu Musailamah Sang Pendusta ini memlesetkan bunyi dan isi Surat Al-Ashr dengan berkata, “Al-Wabr (hewan seperti kucing yang telinga dan dadanya besar). Kau hanyalah dua telinga dan satu dada, dan sisanya darimu adalah sekedar menggali tanah dan bersembunyi di dalam tanah galianmu.”

Maka Amr bin Ash menjawab, “Demi Allah! Sungguh kamu sedang berbohong!

Nak, inilah Musailamah sang pendusta. Bahkan ayat-ayat Allah ia selisihi, ia ganti ayat-ayat suci tersebut seenak perutnya sendiri tanpa memikirkan resiko yang akan ditanggungnya kelak di hari pembalasan.

Maka dari itu, nak… Hindarilah darimu menyelisihi ajakan kebaikan. Janganlah engkau menjadi makmum (pengikut) di belakan Musailamah sang pendusta.

Cukuplah engkau dengar dan taat terhadap berbagai seruan kepada kebaikan. Jangan kau jadikan ‘kritis’ sebagai alasan untuk membenarkan penolakanmu terhadap ajakan kebaikan. Wallahu’alam bish shawab. (15 Rabi’ul Akhir 1433 H)
READ MORE

Wednesday, March 07, 2012

Kenalilah Arti Sombong, Nak...

Irfan Nugroho
Wahai anakku, inilah sikap yang membuat Fir’aun menganggap dirinya sebagai Tuhan yang mampu menghidupkan dan mematikan orang lain padahal telah datang kepadanya seruan tauhid dari Nabi Musa ‘alaihisalaam.

Inilah sikap yang membuat Abu Jahl menolak seruan Islam Rasulullah meski ia tahu dengan sangat jelas bahwa Rasulullah adalah benar-benar seorang Nabi, pembawa risalah kebenaran Islam.

Inilah pengunci urat-urat wajah hingga seorang pemimpin enggan melihat dan tersenyum kepada rakyatnya ketika berjabat tangan.

Inilah pengunci kaca mobil sehingga seorang yang bakhil enggan memberikan kepingan receh kepada pengemis di persimpangan jalan.

Inilah pijakan gas yang membuat pengemudi mobil enggan memperlambat mobilnya di jalanan berair saat kaum miskin sedang melintasi jalan yang sama dengan jalan kaki, sepeda butut, atau sepeda motor.

Inilah perasaan yang membuat seorang istri merasa menjadi manusia tersibuk di dunia mengalahkan kesibukan suaminya; dan inilah yang membuat seorang suami enggan mendengar nasihat sang istri.

Inilah sekat penutup pandangan sehingga seorang Muslim enggan memberi salam, berjabat tangan, dan tersenyum kepada sesama Muslim dari kelompok lain.

Inilah belenggu pikiran bagi seorang Muslim sehingga ia menjadi enggan untuk mengambil ilmu, hikmah, dan kebaikan dari Muslim lainnya.

Inilah tameng yang membuat seseorang menolak datangnya kebenaran yang jelas dan nyata (Bayyinah).

Inilah ‘penyemangat’ bagi seseorang yang baru belajar Islam kemarin sore, yang belum pernah menulis satu pun buku Islami, berani meremehkan ulama-ulama besar yang telah melahirkan karya-karya besar.

Duhai anakku… Kenalilah arti-arti sombong dengan harapan agar engkau bisa menjauhi sifat sombong.

Nak, “Sombong adalah mengingkari kebenaran dan meremehkan manusia,” (HR Muslim).

Maka dari itu, nak…

“Janganlah engkau berjalan di muka bumi ini dengan penuh kesombongan…” (Al-Isra’: 37).


"Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri," (Luqman: 18). Wallahu'alam bish shawab. (12 Rabi'ul Akhir 1433 H).
READ MORE